Powered by Blogger.

Pages

  • Home
  • About
  • Instagram
  • Adventure of a Loafing Brat
  • Gallery
  • Fashion
  • Poems
  • Stories

Chaos /ˈkāˌäs/

    • Home
    • Daily Chaos
    • Adventure of A Loafing Brat
    • Gallery
    • Fashion
    • Poems
    • Stories
    She often asks and wonders who actually she is.
    For she always act different, depend of the person she interact with.

    She always questioning which side she stands.
    For she always look from each side of the problem, and being undecisive after.

    She can not trust.
    For she knows how human is. And she knows herself wholefully.

    She shuts her heart and not telling anybody what or how she feels.
    For she is too afraid that her heart would shatter and broke down into pieces again.

    She can not express what is in her mind.
    For she is tired of people, judging not caring.

    She’s tired of the world.
    For she knows the world is one dangerous place.

    But there she is.
    Smiling.
    Pretending.

    pic from pinterest, edited
    Wed, 25th April
    Continue Reading
    source: pinterest

    Oh wow, sudah terhitung 4 bulan sejak terakhir saya menulis. Sebuah pencapaian luar biasa, resolusi saya gagal dijalani. Lagi. Hahaha.

    source: pinterest

    Sebagai review apa saja yang terjadi selama 4 bulan terakhir ini.

    Di akhir tahun 2017 gue jalan sama sepupu ke bandung. Weekend tahun baru disana. Sebenernya gue selasanya ada ujian sih. Tapi gue nekat berangkat hari jumat.

    Januari, yah begitu lah. Menjalani kegiatan mahasiswa seperti biasa. Pagi ngampus, malam tidur.

    Februari adalah saat bahagia. Tidur sampai puas! Karena libur setelah uas! Whooooppp whoppp!!!

    Maret, setelah satu bulan istirahat akhirnya gue masuk lagi perkuliahan. And by the way, gue masih sibuk berorganisasi. Sebenarnya ini salah satu alasan gue tidak menulis selama 4 bulan. Gue sibuk menjalin relasi.

    Kemudian diakhir bulan maret, mulai ujian lagi. Hidup saya diuji terus memang :')))

    Sampailah kita pada April. Yak. It's april. Banyak juga film bagus keluar. Artinya.....kantong saya jadi kering:)))

    Udah sih segitu aja. Gak jelas bgt emang. Promise i'll make it up!

    Xoxo
    Continue Reading

    Prolog


    Hujan adalah nyanyian alam paling indah. Setidaknya untuk gadis yang termangu di balik jendela itu. Manik matanya mengikuti bulir air yang mengalir turun di kaca jendela. Sayup musik terdengar dari radio di ujung ruangan. Masih kurang secangkir coklat panas untuk melengkapi harinya.

    Ting!

    Bunyi notifikasi dari telepon genggamnya, tanda seseorang mengiriminya pesan singkat. Tak ia hiraukan. Ia terlalu sibuk memandangi indahnya hujan.

    Ting!
    Ting!
    Ting!
    Ting!

    Telepon genggamnya lantas bergetar. Siapapun yang mengiriminya pesan tadi kini sudah hilang kesabaran dan akhirnya memutuskan untuk langsung menelfon si gadis yang masih menatap keluar jendela.

    "Halo," suara lembut gadis itu mengisi ruangan. Volume radio ia kecilkan.

    "Masih dirumah, besides it's raining," sambungnya.

    "No, there are going to be so many people there, so no."

    "You know how much I hate the crowds," dalihnya.

    "Okay, bye," gadis itu memutuskan sambungan telepon, menatap layar ponsel yang memantulkan bayangannya. Bayangan gadis 18 tahun dengan rambut sebahu dan mata yang membulat besar. Dipalingkannya pandangan kembali ke jendela. Hujan hampir berhenti. Kini rintiknya tidak sederas tadi.


    ***

    Writer's note:
    Okaaayyyy, setelah pergelutan panjang dalam pikiran, akhirnya saya memutuskan untuk kembali menelurkan cerita. Gak tahu sih akan berakhir seperti apa, entah akan selesai atau berakhir terbengkalai seperti cerita-cerita terdahulu, untuk sekarang, let's just go with the flow. ehehe.
    Continue Reading

    Ia menatap murung monitor laptopnya. Gagal lagi, entah sudah berapa puluh kegagalan yang ia tuai, rasanya ia sudah muak.
    Sejak kecil ia memang senang membaca, hobinya inilah yang menggerakkanya untuk mulai menulis. Saat kecil tulisannya selalu menuai pujian ibunya, tetapi sampai sekarang belum pernah ia memenangkan lomba menulis. Entahlah, mungkin ia memang tidak berbakat. Mungkin selama ini ibunya berdusta, mungkin cerpen buatannya memang tidak sebagus itu.
    “Kenapa kak?” tanya adiknya yang tak kuasa menahan rasa ingin tahu, melihat raut suram kakaknya yang seolah menguarkan aura gelap, kontras dengan terangnya layar laptop.
    Karin hanya menggeleng. Bisa habis ia nanti, adik usilnya itu selalu menggodanya setiap kali ada kesempatan. Ia kemudian mematikan laptopnya lalu dengan langkah gontai menyeret kakinya ke kamar. Ia ingin sendiri. Tak dihiraukannya suara sang ibu yang menyuruhnya makan.
    *
    Sudah tiga hari ini Finza heran melihat tingkah laku Karin, sahabatnya. Karin selalu terlihat murung, mukanya datar tanpa ekspresi, terkadang bahkan Finza mendapati sahabatnya ini sedang melamun.
    “Karin?” Finza memanggil Karin, tangan kirinya menepuk pelan bahu Karin, tangan yang lainnya menggenggam sebuah majalah remaja. Karin tetap tak bergeming, terlalu asyik melamun rupanya. Finza menepuk bahu Karin lagi, kali ini lebih kencang.
    “Eh?” Karin terkejut, “kenapa?”
    “Kamu yang kenapa? Seneng banget ngelamun,” Finza mendelik sebal, “nih, kamu coba deh masukin tulisan kamu ke majalah, honornya lumayan.”
    “Duh, gimana ya… Kayaknya aku mau berhenti nulis, aku udah muak, setiap ikut lomba nulis pasti gagal, capek,” tuturnya sedih.
    “Ya ampun, emang kamu udah berapa kali ngirim tulisan kamu?”
    “Hmmm…” Karin terlihat berpikir, ia menghitung dalam hati, satu…dua…tiga.. “Dua puluh delapan kali,” jawabnya.
    “Jadi hanya karena kamu gagal 28 kali, kamu mau menyerah gitu aja? Aku pikir kamu ga sedangkal itu. Kamu tahu? Berapa kali Thomas Alva Edison gagal ketika coba menemukan bola lampu pijar? 10083 kali! Dan kamu? Hanya karena kamu gagal 28 kali kamu mau menyerah?”
    “Setiap orang itu beda Sa! Aku bukan Thomas Alva Edison yang gak masalah gagal berkali-kali, aku udah capek!” Ujar Karin kemudian berlalu, ia malas berdebat. Ia ingin sendiri.
    *
    Sebulan sudah Karin dan Finza melakukan aksi mogok bicara satu-sama lain, mereka berdua mempertahankan egonya masing-masing. Karin yang masih murung karena tidak pernah menang lomba cerpen dan Finza yang jengkel karena merasa Karin masih kurang berusaha dan terlalu cepat menyerah.
    “Ka Kariiiiinnnn,” seru adiknya heboh, padahal ia baru sampai rumah, tes lari tadi mengerahkan hampir seluruh tenaganya, belum lagi belakangan ini ia memang banyak pikiran.
    “Apa sih?! Berisik!” serunya marah.
    “Kenapa sih ka? Sensi amat,” ledek adiknya, “eh, selamat ya kaaaaa.”
    Karin masih dikuasai emosi, dengan langkah tegap ia masuk kamar dan melempar tasnya. Ia membenamkan dirinya di kasur. Menangis…..
    “Lho, kakak kenapa?”
    Karin menggeleng lemah sambil masih membenamkan kepalanya di bantal, air matanya tak mau berhenti menetes. Setelah 10 menit menangis, baru ia bersuara.
    “Aku capek dek, aku gamau nulis lagi,” katanya memulai cerita, ia menceritakan semuanya mulai dari kegagalannya, Thomas Alva Edison dan pertengkarannya dengan Finza, ajaibnya sang adik yang selama ini selalu menggodanya, kini diam mendengarkan.
    “Jadi kakak mau berhenti nulis?” tanya adiknya, diiringi anggukan Karin, “serius?”
    “Iya, aku serius,” Karin menekankan.
    “Tapi kenapa tulisan kakak ada di majalah?” adiknya menyodorkan majalah yang sedari tadi dipegangnya.
    Karin segera merebutnya, ia melongo. ‘Karin Aulia’, tercetak jelas di bawah judul cerpennya. Cerpennya di muat! Tapi tunggu, ia tidak ingat pernah mengirimkan cerpennya. Sepotong nama terbersit di pikirannya. Finza!
    Dengan tergesa Karin mengambil ponselnya, menghubungi Finza. Ketika panggilannya tersambung suara di sebrang sana menyambutnya.
    “Jadi, berhenti nulis?”

    ***

    BTW
    Cerpen ini gue tulis entah berapa tahun lalu, pas masih SMA. Ceritanya gue bikin untuk melengkapi tugas bahasa indonesia saat itu. Eh ketemu lagi hari ini, 12 November 2017, setelah gue baca, ternyata oke juga. Hehehehe
    Continue Reading
    she knows already;
    what's inside her head
    was too good to be true
    she still wants to believe anyway

    and so she hurt

    isn't it her fault?
    Continue Reading
    Hallo,

    Gue lagi dalam masa sibuk-sibuknya, since ini minggu ujian. Tapiii... gue menyempatkan diri mampir ke blogger untuk mengisi blog yang entah ada atau tidak pembacanya ini.

    Kenapa?
    Just because. Pengen aja gitu.

    Halah, sebenernya alasan aja, lagi bosen buka buku. ehehe.

    Yaudah deh, sampai sini aja perjumpaan kita. Sampai jumpa di post berikutnya!
    Bye.
    Continue Reading
    Kalau kemarin gue terperangah sama sikap manusia yang selalu bikin geleng-geleng kepala. Di blog entry kali ini gue mau menceritakan hal lain yang bertolak belakang.

    Bukan kok. Bukan invasi alien ke bumi.

    Jadi setiap Jum'at, seperti biasa setelah 5 hari full kuliah, gue pulang ke rumah orang tua naik kereta. Gue naik kereta dengan tujuan akhir stasiun bogor.

    Gue berangkat dari kosan di kawasan Ciputat jam 4 kurang naik ojek online, dan tahu lah ya dengan kemacetan Jakarta gue sampai stasiun kurang lebih jam 5, which is, jam-jam pulang kantor, yang menyebabkan kereta super penuh!

    Gue sengaja naik ke gerbong biasa, gak gerbong khusus wanita, karena di gerbong biasa para manusia cenderung lebih manusiawi ((yaiyalah mereka manusia wkwk)). Gue masuk dan cari posisi nyaman deh tuh, gue berdiri deket ibu-ibu yang usianya kira-kira 60an((walaupun berdiri tuh ga ada nyaman-nyamannya)).

    Ketika sampai Stasiun Pondok Cina, masuk lah tuh segerombolan lagi manusia, diantaranya ada seorang ibu-ibu paruh baya bawa anaknya yang masih kecil.

    Nah disini cerita di mulai.

    Dari semua manusia yang dapet tempat untuk duduk, ada seorang mbak-mbak dengan rambut diikat satu dan jaket olahraga berdiri dan menawarkan tempat duduk ke ibu-ibu itu. Disitu gue salut banget sama dia.

    Si mbak-mbak iket satu itu akhirnya berdiri di samping gue.

    Sampai stasiun depok baru, ibu-ibu yang duduk di dekat gue mau turun tuh kayanya. Nah tapi tas yang di taruh di bawah kursi jatuh alhasil dia kesulitan untuk narik tali jinjingan tas tersebut. Gue yang saat itu ngantuk-ngantuk gak sadar kalo si ibu kesulitan (dan kalaupun gue sadar, gue pasti terlalu malu untuk bantuin si ibu (bukan malu karena diliatin bantuin, but because it require social interaction, and if you know me that well you'll know that i am indeed very bad at social interaction)), nah tapi si mbak-mbak iket satu tadi berjongkok dan bantuin si ibu benerin posisi si tas.

    Last thing, ketika sampai di stasiun cilebut, ibu-ibu dengan anak yang tadi gue ceritain naik dari stasiun Pondok Cina bersiap mau turun, nah ibu-ibu itu otomatis ngasih tempat duduknya buat si mbak-mbak iket satu dong, tapi tau apa?

    Si mbak-mbak iket satu nanya gue "kamu mau duduk ga? Aku udah mau turun".

    Gue yang agak-agak budek dan lola karena ngantuk, bingung dan nanya, "kenapa ka?"

    Terus dia ulang lagi pertanyaan dia "kamu mau duduk ga? Aku udah mau turun".

    Disitu gue bersyukur banget, bisa ketemu sama orang baik, ternyata di dunia yang kejam ini masih ada orang semacam mbak-mbak ikat satu itu.

    Whoever you are mbak-mbak iket satu. Terima kasih.

    P.s. meskipun saat itu dia ga nawarin tempat duduk ke gue. Gue masih akan tetap salut sama mbak-mbak iket satu itu.




    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Chaos Writer

    Chaos Writer
    Here I am, the writer of 'small doses chaos'. Please fasten the seatbelt and enjoy this rollercoaster of the loafing brat's life.

    Also Me

    • facebook
    • twitter
    • instagram

    Popular Posts

    • Enhypen Border: Day One Album Review
      Okay, due to lack of idea, I think I'm going to just review the album that i bought, it's a mini album actually, although it's a...
    • Monthly Lookbook: August - September
      I'm not really into fashion, or am I?  I mean I like to see those models in the magazines, those cute girl with cute clothes on ins...
    • Catching Up With My Life
      My last post is probably 6 months agoーI checked, it's 9 months ー,  and because this kind of thing happen all the time lets just pretend ...
    • Keangkuhan Si Chaos Writer
      Selama ini, gue sombong banget ya? Jarang banget bersyukur sama keadaan gue yang Alhamdulillah , sangat amat berkecukupan. Beberapa w...
    • She had enough.
      She smiles and wave one more time. No one knows her messy thought. Her brain. What lies inside her mind. The dark side of her. She goes ...

    Labels

    Adventure of a Loafing Brat Daily Chaos Fashion Gallery poems Random Story Try this!

    Blog Archive

    • ▼  2023 (1)
      • ▼  January 2023 (1)
        • So I'm Back Again
    • ►  2021 (3)
      • ►  June 2021 (1)
      • ►  May 2021 (2)
    • ►  2020 (6)
      • ►  July 2020 (1)
      • ►  June 2020 (2)
      • ►  May 2020 (3)
    • ►  2019 (2)
      • ►  December 2019 (1)
      • ►  November 2019 (1)
    • ►  2018 (5)
      • ►  September 2018 (1)
      • ►  June 2018 (1)
      • ►  May 2018 (1)
      • ►  April 2018 (2)
    • ►  2017 (16)
      • ►  December 2017 (1)
      • ►  November 2017 (2)
      • ►  October 2017 (4)
      • ►  September 2017 (3)
      • ►  August 2017 (6)
    facebook Twitter instagram

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top